Posts tagged Global Warming

TAHUKAH KAMU APA ITU PEMANASAN GLOBAL

Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi.. Penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer.

Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi kehidupan makhluk hidup di bumi ini,antara lain seperti:

 

  • Cuaca

Menurut penelitian yang dilakukan, yang paling terkena dampaknya dilihat dari segi cuaca adalah di daerah bumi bagian utara dan daerah kutub. Gunung-gunung es akan mencair, daratan akan mengecil, dan es yang terapung di bagian utara bumi akan berkurang. Selain itu pemanasan global juga akan berdampak di daerah subtropis. Seperti perbedaan suhu pada musim dingin dan malam hari yang akan semakin meningkat, musim tanam akan lebih panjang, dan bagian yang tertutup salju akan cepat mencair. Sedangkan di daerah tropis atau daerah hangat akan menimbulkan lebih banyak bencana seperti kelembaban yang tinggi, badai, topan badai (Hurricane), curah hujan meningkat, kemarau panjang, dan cuaca menjadi tidak terprediksi.

  • Pantai dan Tinggi permukaan air laut

Pemanasan global menyebabkan suhu permukaan bumi meningkat sehingga suhu permukaan air laut juga akan meningkat. Hal tersebut menyebabkan volume air laut membesar dan menaikkan permukaan air laut. Ini akan berdampak bagi kehidupan di daerah pantai antara lain erosi yang meningkat di tebing, pantai, bukit pasir dan mempengaruhi ekosistem di pantai. Selain itu dampak lainnya adalah banjir akibat meningkatnya air pasang pada muara sungai serta kenaikan air laut dapat menutupi sebagian daratan dekat pantai.

Dari segi pertanian juga akan sangat dirugikan dengan adanya pemanasan global. Pemanasan global salah satu ciri yang sangat nampak dampaknya adalah kenaikan suhu permukaan bumi dan anggapan yang salah bahwa dengan meningkatnya suhu maka produktivitas pertanian juga meningkat. Justru dengan meningkatnya suhu menyebabkan cuaca tidak menentu sehingga musim tanam di beberapa daerah juga akan berubah. Contohnya di daerah pertanian gurun yang bergantung pada irigasi dari gunung-gunung akan semakin menderita karena snowpack (kumpulan salju) yang berfungsi sebagai reservoir air (penyimpan air) pada musim dingin akan lebih cepat mencair sebelum puncak masa tanam tiba. Dampak buruk lainnya juga berakibat pada tanaman pangan dan hutan terserang hama dan penyakit yang lebih hebat.

  • Kehidupan hewan dan tumbuhan

Mahkluk hidup yang paling terkena dampak buruk dari pemanasan global ini adalah hewan dan tumbuhan. Satwa cenderung akan bermigrasi ke daerah kutub atau kearah pegunungan. Sedangkan tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhan,mengarah kedaerah baru karena menganggap daerah lamanya sudah terlalu hangat. Namun pembangunan manusia akan menghalanginya. Spesies yang terhalangi perpindahannya dan tidak dapat berpindah cepat mungkin akan mati.

  • Kesehatan manusia

Banyak ilmuan yang memprediksi bahwa dengan meningkatnya suhu bumi akan menyebabkan banyak orang yang terkena penyakit dan meninggal karena stres panas. Penyakit-penyakit lain yang dapat timbul akaibat pemanasan global dan sering dijumpai adalah deman dengue, demam kuning, encephalitis, serta meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari.

  • Sosial dan Ekonomi

Dampak bagi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat meliputi gangguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan kota pantai, gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan, pelabuhan dan bandara, terhadap permukiman penduduk, pengurangan produktivitas lahan pertanian, peningkatan resiko kanker dan wabah penyakit, dll.

Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi pemanasan global antara lain:

(1) Matikan semua alat elektronik saat tidak digunakan. Kerlip merah penanda standby menunjukkan alat tersebut masih menggunakan listrik. Artinya Anda terus berkontribusi pada pemanasan global.

(2) Pilihlah perlengkapan elektronik serta lampu yang hemat energi

(3) Saat matahari bersinar hindari penggunaan mesin pengering, jemur dan biarkan pakaian kering secara alami

(4) Matikan keran saat sedang menggosok gigi

(5) Gunakan air bekas cucian sayuran dan buah untuk menyiram tanaman

(6) Segera perbaiki keran yang bocor – keran bocor menumpahkan air bersih hingga 13 liter air per hari

(7) Jika mungkin mandilah dengan menggunakan shower. Mandi berendam merupakan cara yang paling boros air.

(8) Selalu gunakan kertas di kedua sisinya

(9) Gunakan kembali amplop bekas

(10)Jangan gunakan produk ’sekali pakai’ seperti piring dan sendok kertas atau pisau, garpu dan cangkir plastic

(11)Gunakan baterai isi ulang

(12)Pilih kalkulator bertenaga surya

Setelah mengetahui pengertian dari pemanasan global, dampak buruknya bagi makhluk hidup dan lingkungan di bumi ini maka seorang mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat intlektual seharusnya kita mampu melakukan hal-hal yang dapat meminimalisir terjadinya pemanasan global. Mulai saat ini, sudah saatnya mahasiswa berperan aktif dalam membantu pemerintah mengurangi dampak buruk global warming atau pemanasan global.

Comments (1) »

Gas-Gas Berbahaya

cnp_gas_bomb_01.jpg

Saat ini kita sebagai umat manusia dipusingkan dengan berbagai isu yang menyangkut tentang pemanasan global. Pemanasan global merupakan meningkatnya suhu rata – rata permukaan bumi dari tahun ke tahun yang disebabkan peningkatan jumlah emisi gas rumah kaca di atmosfer. Pemanasan global akan diikuti dengan perubahan iklim, seperti meningkatnya curah hujan di beberapa belahan dunia sehingga menimbulkan banjir dan erosi. Akhir – akhir ini, hal seperti ini sudah sering terjadi di Indonesia dimana terjadi banjir dan longsor pada musim hujan dan terjadi kekeringan pada musim kemaruau. Selain itu, waktu pergantian musim di Indonesia juga sudah mulai bergeser.

Pemanasan global terjadi akibat dari tindakan manusia yang berhubungan dengan penggunaan bahan bakar fosil, pertanian, peternakan, dan pemanfaatan hutan yang berlebihan dan tidak memperhatikan keseimbangan alam. Penggunaan bahan bakar fosil, kegiatan-kegiatan pertanian dan peternakan, dan perambahan hutan secara langsung akan menghasilkan gas buangan yang menjadi penyebab meningkatnya suhu permuakaan bumi. Gas buangan tersebut antara lain adalah karbindioksida (CO2), metana (CH4), dinitro oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC), perfluorokarbon (PFC), sampai sulfur heksafluorida (SF6). Gas rumah kaca yang memberikan sumbangan terbanyak adalah CO2, CH4, dan N2O. Sedangkan HFC, PFC, dan SF6, hanya memberikan sumbangan kurang dari 1%.

Gas – gas rumah kaca ini banyak dihasilkan oleh negara – negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Kanada, dan Jepang. Hal ini disebabkan gas rumah kaca banyak dihasilkan dari sektor energi, industri, dan tranportasi yang merupakan sektor andalan di negara – negara maju. Total gas rumah kaca yang dihasilkan oleh Amerika Serikat lebih besar dua kali lipat dibandingkan total emisi gas rumah kaca China, dan emisi total gas rumah kaca dari negara berkembang besar sperti Korea, Meksiko, Afrika Selatan, Brazil, Indonesia, dan Argentina tidak lebih besar daripada Amerika Serikat. Indonesia menjadi penghasil gas rumah kaca terbesar ke-3 setelah Amerika Serikat dan China karena di Indonesia banyak terjadi pembakaran hutan (khususnya kawasan gambut) yang terjadi hampir setiap tahun. Selain itu, Indonesia juga dituduh menghasilkan gas metan yang sangat besar karena menerapkan pertanian tanah sawah. Padahal, gas metan pada tanah sawah hanya terbentuk jika dilakukan pengolahan – pengolahan tertentu.

Sejak munculnya kepedulian masyarakat dunia mengenai pamanasan global, diadakan berbagai perjanjian yang bertujuan untuk mengurangi kandungan gas rumah kaca di atmosfer mulai dari Kerangka Konfensi untuk Perubahan Iklim (Framework Confention on Climate Change) di Rio de Janeiro, Protokol Kyoto, sampai yang terakhir adalah diadakannya Bali Action Plan pada Desember 2007 di Bali. Kerangka Konfensi untuk Perubahan Iklim ini hanya mengikat negara – negara inustri secara moral untuk menstabilkan emisi CO2-nya. Namun, hanya sedikit dari negara industri ini yang dapat memenuhi target penurunan emisinya. Karena hal itu, maka dibuat suatu komitmen yang mengikat secara hukum dan memperkuatnya dalam sebuah protokol, yaitu Protokol Kyoto yang mengharuskan negara – negara industri untuk menurunkan emisinya secara kolektif sebesar 5,2% dari tingkat emisi tahun 1990.

Sedangkan berdasarkan Bali Action Plan, keputusannya secara garis besar hanya berisi mengenai kebijakan yang harus dibuat oleh negara – negara yang mendukung pengurangan emisi dari deforestasi dan kerusakan hutan di negara –negara berkembang serta penyaluran dana bagi transfer teknologi yang lebih ramah lingkungan. Rencana kerja inilah yang kemudian diadopsi oleh pemerintah Indonesia. Salah satunya yang nampak sudah semakin nyata ialah pelaksanaan pengurangan emisi dari deforestasi serta kerusakan hutan yang umum disebut program REDD.

Intinya, penggunaan energi fosil yang menghasilkan emisi gas rumah kaca harus diganti dengan penggunaan bahan bakar dan energi ramah lingkungan. Selain itu, pemanasan global ini bukan hanya masalah satu negara saja, namun merupakan permasalahan seluruh negara di dunia. Untuk itu, kita semua sebagai umat manusia yang peduli terhadap lingkungan dan generasi yang akan datang seharusnya dapat mengampanyekan dan melakukan tindakan-tindakan yang dapat mengurangi emisi gas rumah kaca seperti mengurangi penggunaan energi fosil, mengurangi pemakaian listrik, menggunakan bahan-bahan daur ulang, tidak membuang sampah sembarangan , dan masih banyak hal-hal kecil yang dapat dilakukan mulai dari diri kita sendiri.

 

By: Basso

Comments (3) »

STOP USING PLASTIC BAGs!!!!

no-plastic-picture.png

Sebelumnya gua nulis ini bukannya sok jadi duta lingkungan atau ikut-ikutan orang-orang gara-gara lagi heboh-hebohnya GLOBAL WARMING!!.. TAPI ya gak ada salahnya juga qlo kita sebagai manusia penghuni BUMI ini patut ngejaga dan ngerawat rumah yang kita tempati ini kan…

Disini bagi yang udah mau meluangkan waktunya untuk hanya sekedar liat-liat atau Alhamdulillah mau baca tulisan ini, Cuma mau mengajak kawan-kawan untuk lebih concern lagi ke masalah SAMPAH terutama PLASTIC WASTE …Karena di salah satu mata ajaran kuliah saya yaitu BIOTEKNOLOGI TANAH, juga belum ditemukan bakteri yang dapat merombak kumpulan polimer tersebut..(hahahahaha promosi dikiiiitt yiiaahh..) Sampah PLASTIK berbahaya bagi LINGKUNGAN karena ::

  1. PLASTIK SANGAT SULIT HANCUR SECARA ALAMI dan juga sulit di daur ulang. Setiap sampah plastik yang di buang, baru akan hancur dalam waktu 200-400 tahun!
  2. Walaupun murah bahkan sering diberikan gratis, plastik dibuat dengan menggunakan minyak bumi, sumber energi yang mulai langka. Di Inggris sebagai contoh menggunakan 2 miliar barel minyak untuk industri kantong plastik. Pada akhirnya minyak yang terpakai terbuang sia-sia karena hanya dipakai sekali-dua kali lalu menggunung di tempat sampah.
  3. Sampah plastik sangat berbahaya bagi beberapa jenis hewan. Di Australia tercatat lebih dari 100.000 hewan yang terdiri dari burung, ikan paus, anjing laut dan kura-kura mati karena menelan atau terbelit sampah plastik, dan lebih parahnya setelah tubuh hewan tersebut terurai, sampah palstiknya akan terbebas lagi ke alam.
  4. membakar sampah juga menyebabkan zat-zat beracun dari sampah terlepas ke udara yang kita hirup. Hal ini dapat memicu tumbuhnya kanker.
  5. dalam pembuatannya juga ikut dimasukkan sejenis bahan pelembut (plasticizers) supaya plastik bertekstur licin, lentur dan gampang dibentuk. Tapi kalau plastik dipakai buat bungkus makanan, plasticizers bisa mengkontaminasi makanan. Apalagi kalau makanan yang dibungkus masih panas, si plasticizers dan monomer-monomernya bisa makin cepat keluar dan pindah ke makanan dan masuk ke tubuh kita.
  6. Sampah plastik dari sektor pertanian dunia setiap tahunnya mencapai 100 juta ton. Kalau sampah plastik ini dibentangkan, panjangnya bisa membungkus bumi sampai sepuluh kali.

(this article has taken from Go-Girl Magz 3rd Anniversary series.)

Jadi solusinya sekarang buat kita-kita

Ø Qlo beli sesuatu dan barang yang kita beli kecil gak usah pake kantong plastik, masukkin aja ke dalem tas. Ok!

Ø Solusi qlo kita mau belanja dalam jumlah yang banyak sediain sendiri kantong kain yang ukurannya cukup buat belanjaan kita.

Ø Kalo akhirnya terpaksa banget nerima kantong plastik, simpan plastik itu dan dilipet untuk digunain berulang-ulang.

Ø Nah yang ini qlo lo lagi belanja bulanan ma nyokap ato nemenin nyokap belanja bulanan, mending make kerdus bekas buat ngebungkusnya.

Ø Jangan membuang sampah organik di dalam kantong plastik yang tertutup rapat. Kalo sampahnya gak dibuka 10tahun lagipun, smpahnya blm bisa terurai sempurna..

Ok!!!

Mariii kita bersama –sama SELAMATKAN BUMI!!!

BY :: TBO (MSL 42)

Comments (6) »

PEMANFAATAN SAMPAH SEBAGAI UPAYA MENGURANGI PEMANASAN GLOBAL


Istilah sampah pasti sudah tidak asing lagi ditelinga. Jika mendengar istilah sampah, pasti yang terlintas dalam benak adalah setumpuk limbah yang menimbulkan aroma bau busuk yang sangat menyengat. Sampah diartikan sebagai material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah adalah zat kimia, energi atau makhluk hidup yang tidak mempunyai nilai guna dan cenderung merusak. Sampah merupakan konsep buatan manusia, dalam proses-proses alam tidak ada sampah, yang ada hanya produk-produk yang tak bergerak (wikipedia).

Sampah dapat berada pada setiap fase materi yitu fase padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam dua fase yaitu cair dan gas, terutama gas, sampah dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi. Bila sampah masuk ke dalam lingkungan (ke air, ke udara dan ke tanah) maka kualitas lingkungan akan menurun. Peristiwa masuknya sampah ke lingkungan inilah yang dikenal sebagai peristiwa pencemaran lingkungan (Pasymi).

Berdasarkan sumbernya sampah terbagi menjadi sampah alam, sampah manusia, sampah konsumsi, sampah nuklir, sampah industri, dan sampah pertambangan. Sedangkan berdasarkan sifatnya sampah dibagi menjadi dua yaitu 1) sampah organik atau sampah yang dapat diurai (degradable) contohnya daun-daunan, sayuran, sampah dapur dll, 2) sampah anorganik atau sampah yang tidak terurai (undegradable) contohnya plastik, botol, kaleng dll.

Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar datang dari aktivitas industri, misalnya pertambangan, manufaktur, dan konsumsi. Hampir semua produk industri akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah sampah yang kira-kira mirip dengan jumlah konsumsi. Laju pengurangan sampah lebih kecil dari pada laju produksinya. Hal ini lah yang menyebabkan sampah semakin menumpuk di setiap penjuru kota.

Besarnya timbunan sampah yang tidak dapat ditangani tersebut akan menyebabkan berbagai permasalahan baik langsung maupun tidak langsung bagi penduduk kota apalagi daerah di sekitar tempat penumumpukan. Dampak langsung dari penanganan sampah yang kurang bijaksana diantaranya adalah berbagai penyakit menular maupun penyakit kulit serta gangguan pernafasan, sedangkan dampak tidak langsungnya diantaranya adalah bahaya banjir yang disebabkan oleh terhambatnya arus air di sungai karena terhalang timbunan sampah yang dibuang ke sungai.

Selain penumpukan di tempat pembuangan sementra (TPS), sampah pun akan semakin meningkat jumlah nya di tempat pembuangan akhir (TPA). Dengan semakin bertumpuknya sampah di TPA-TPA, akan lebih berpeluang menimbulkan bencana seperti yang terjadi di salah satu TPA yang ada di Bandung beberapa tahun lalu. Bencana longsong yang terjadi di TPA tersebut terjadi karena adanya akumulasi panas dalam tumpukan sampah yang pada akhirnya menimbulkan ledakan yang sangat hebat. Karena ledakan inilah maka sampah-sampah tersebut longsor dan menimbun puluhan rumah serta pemiliknya. Tak kurang dari 100 orang meninggal karena peristiwa ini. Dari kejadian tersebut kita harus berfikir keras bagaimana agar bencana serupa tidak trjadi di TPA-TPA yang lainnya.

Selain dampak yang telah disebutkan tadi, secara tidak langsung sampah yang menumpuk akan berpengaruh pada perubahan iklim akibat adanya kenaikan temperatur bumi atau yang lebih dikenal dengan istilah pemanasan global. Seperti yang telah kita ketahui bahwa pemanasan global terjadi akibat adanya peningkatan gas-gas rumah kaca seperti uap air, karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan dinitrooksida (N2O). Dari tumpukan sampah ini akan dihasilkan ber ton-ton gas karbondioksida (CO2) dan metana (CH4). Gas metana (CH4) dapat dirubah menjadi sumber energi yang akhirnya bisa bermanfaat bagi manusia. Sedangkan untuk gas karbondioksida (CO2), sampai saat ini belum ada pemanfaatan yang signifikan.

Akan tetapi proses perubahan gas metana (CH4) menjadi energi tetap saja menghadapi kendala diantaranya adalah kurangnya prospek dari segi ekonomi, yang akhirnya membuat perkembangannya masih tetap jalan ditempat dan entah kapan akan maju. Akibatnya gas metana (CH4) yang dihasilkan dari tumpukan sampah hanya dapat dibiarkan saja mengapung keudara tanpa bisa dimanfaatkan.

Gas karbondioksida (CO2) yang dihasilkan di TPA-TPA pun tidak hanya berasal dari penumpukan sampah-sampah saja. Tetapi berasala juga dari pembakaran-pembakaran sampah plastik yang di lakukan oleh pemulung. Para pemulung ini membakar sampah plastik untuk lebih memudahkan dalam memilih sampah-sampah yang tidak bisa dibakar seperti besi. Padahal dengan pembakaran ini akan sangat merugikan terutama bagi kesehatan masyarakat disekitar tempat pembakaran. Besarnya gas karbondioksida (CO2) yang dihasilkan dari pembakaran tentu saja akan semakin meningkatkan temperatur di permukaan bumi ini. selain itu abu dari sisa pembakaran sampah akan menimbulkan gangguan pernafasan pada masyarakat sekitar.

Menurut Sumaiku selain menghasilkan gas karbondioksida (CO2) dalam jumlah besar, pembakaran sampah akan menghasilkan senyawa yang disebut dioksin. Dioksin adalah istilah yang umum dipakai untuk salah satu keluarga bahan kimia beracun yang mempunyai struktur kimia yang mirip serta mekanisma peracunan yang sama. Keluarga bahan kimia beracun ini termasuk (a) Tujuh Polychlorinated Dibenzo Dioxins (PCDD); (b) Duabelas Polychlorinated Dibenzo Furans (PCDF); dan (c) Duabelas Polychlorinated Biphenyls (PCB). Racun udara dioksin akan berbahaya pada gangguan fungsi daya tahan tubuh, kanker, perubahan hormon, dan pertumbuhan yang abnormal. Dengan demikian pengurangan sampah dengan pembakaran lebih baik dihindari

Ada beberapa cara pengurangan sampah yang lebih baik dari pembakaran yaitu seperti yang diterangkan dalam web wahli. Ada empat prinsip yang dapat digunakan dalam menangani maslah sampah ini. Ke empat prinsip tersebut lebih dikenal dengan nama 4R yang meliputi:

  1. Reduce (Mengurangi); sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan.
  2. Reuse (Memakai kembali); sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.
  3. Recycle (Mendaur ulang); sebisa mungkin, barang-barang yg sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain.
  4. Replace (Mengganti); teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang barang yang hanya bisa dipakai sekalai dengan barang yang lebih tahan lama. Juga telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan, misalnya, ganti kantong keresek kita dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidak bisa didegradasi secara alami.

Sedangkan menurut Syahputra pola yang dapat dipakai dalam penanggulangan sampah meliputi Reduce, Reuse, dan Recycle, dan Composting (3RC) yang merupakan dasar dari penanganan sampah secara terpadu. Reduce (mengurangi sampah) atau disebut juga precycling merupakan langkah pertama untuk mencegah penimbunan sampah.

Reuse (menggunakan kembali) berarti menghemat dan mengurangi sampah dengan cara menggunakan kembali barang-barang yang telah dipakai. Apa saja barang yang masih bisa digunakan, seperti kertas-kertas berwarna-warni dari majalah bekas dapat dimanfaatkan untuk bungkus kado yang menarik. Menggunakan kembali barang bekas adalah wujud cinta lingkungan, bukan berarti menghina.

Recycle (mendaur ulang) juga sering disebut mendapatkan kembali sumberdaya (resource recovery), khususnya untuk sumberdaya alami. Mendaur ulang diartikan mengubah sampah menjadi produk baru, khususnya untuk barang-barang yang tidak dapat digunakan dalam waktu yang cukup lama, misalnya kertas, alumunium, gelas dan plastik. Langkah utama dari mendaur ulang ialah memisahkar sampah yang sejenis dalam satu kelompok.

Composting merupakan proses pembusukan secara alami dari materi organik, misalnya daun, limbah pertanian (sisa panen), sisa makanan dan lain-lain. Pembusukan itu menghasilkan materi yang kaya unsur hara, antara lain nitrogen, fosfor dan kalium yang disebut kompos atau humus yang baik untuk pupuk tanaman. Di Jakarta, pembuatan kompos dilakukan dengan menggunakan sampah organik

Tentunya cari ini akan lebih baik digunakan dari pada dengan cara pembakaran. Karena selain mengurangi efek pemanasan global dengan mengurangi volume gas karbondioksida (CO2 ) yang dihasilkan, cara ini tidak mempunyai efek samping baik bagi masyarakat ataupun lingkungan. Seperti kata pepatah pencegahan penyakit akan lebih baik dari pada mengobatinya. Kata bijak ini juga bisa digunakan dalam strategi penanganan sampah yakni mencegah terbentuknya sampah lebih baik dari pada mengolah/memusnakan sampah. Karena bagaimanapun mengolah/ memusnahkan sampah pasti akan menghasilkan jenis sampah baru yang mungkin saja lebih berbahaya dari sampah yang dimusnakan. Jadi mari mulai sekarang kita bebenah diri untuk mengurangi hal-hal yang bisa membentuk sampah.

by: bowlang staf litbang hamit 2008

dari berbagai sumber

Comments (23) »

pemanasan global dan teman-temannya

Awal Desember tahun 2007 telah diadakan konfrensi di Bali yang membahas tentang naiknya temepratur di permukaan bumi. Konfrensi tersebut dihadiri oleh puluhan negara baik negara maju seperti Amerika, Jepang dan negara-negara di bagian Eropa serta negara-negara berkembang seperti negara-negara Asia. Konfrensi tersebut menghasilakn Peta Jalan Bali yang pada intinya berisi tentang bagaimana cara mencegah agar bumi kita tidak semakin panas.

Seperti yang telah diketahui bahwa pemanasan permukaan bumi atau yang lebih dikenal dengan pemanasan global terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca. Disebut sebagai gas rumah kaca karena gas tersebut berfungsi seperti kaca yang berada dalam rumah kaca. Sinar matahari yang dipancarkan ke bumi sebagian besar akan dikembalikan lagi ke atmosfer. Karena adanya gas-gas rumah kaca, maka sinar matahari yang seharusnya dikembalikan ke atmosfer tersebut akan dipantulkan kembali ke bumi, pematulan inilah yang menyebabkan temepratur meningkat. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer, maka semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.

Gas tersebut antara lain uap air, karbondioksida, dan metana. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Jadi dapat di jelaskan bahwa pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Seperti yang dijelasakan dalam Wikipedia Indonesia bahwa temperatur rata-rata global pada permukaan bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18°c (1.33 ± 0.32°f) selama seratus tahun terakhir. Johannis dalam sebuah artikel menuturkan bahwa pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi.

Dengan meningkatnya temperatur global ini bukan tidak mungkin akan menimbulkan permasalah-permasalah baru. Meningkatnya temperatur global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan seperti naiknya muka air laut, meningkatnya intensitas kejadian cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. sebuaha artikel menjelaskan bahwa pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan biogeofisik seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna tertentu, migrasi fauna dan hama penyakit. Sedangkan dampak bagi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat meliputi : (a) gangguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan kota pantai, (b) gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan, pelabuhan dan bandara (c) gangguan terhadap permukiman penduduk, (d) pengurangan produktivitas lahan pertanian, (e) peningkatan resiko kanker dan wabah penyakit.

Sebenarnya, efek rumah kaca sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi apabila konsetrasi gas-gasnya masih berada dalam ambang kewajaran. Tanpa adanya efek rumah kaca, maka planet ini akan menjadi sangat dingin. Akan tetapi konsentrasi gas-gas yang menyebabkan efek rumah kaca sudah sangat melebihi batas, sehingga pemanasan global menjadi akibatnya. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis hewan.

Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub akan mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersama dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair. Pada akhirnya kejadian ini akan menjadi suatu siklus yang berkelanjutan yang akan menyebabkan meningkatnya muka air laut. Muka air laut mengalami kenaikan rata-rata 0,175 centimeter setiap tahun sejak 1961(kompas cyber)

Selain meningkatnya muka air laut, efek lain dari meningkatnya temperatur global adalah meningkatnya temperatur air laut. Jika laut menjadi lebih hangat, maka kemampuan lautan untuk menyerap karbondioksida akan berkurang. Hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah.

Salah satu penyebab meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca adalah terjadinya kebakaran hutan. Untuk setiap hektar kebakaran hutan/lahan saja, akan dihasilkan 18,9 hingga 702 juta ton karbon dioksida. karbon yang terlepas ke udara dari hasil kebakaran hutan/lahan akan menyebabkan gas terperangkap di atas awan pada ketinggian 5-7 km. Akibatnya, panas dari sinar matahari tidak dapat keluar dari bumi sehingga suhu udara akan semakin bertambah. Suhu udara di bumi rata-rata bertambah 2o C setiap 10 tahun sejak 1980 (kompas cyber).

Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Gas karbondioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan. Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara atau aquifer(Randu).

Akan tetapi untuk menanam pohon, sekarang ini dirasakan sangat sulit. Hal ini dikarenakan adanya alih fungsi lahan yang berubah menjadi pemukiman dan kawasan industri. Selain itu, kebakanaran hutan akan menyebabkan hilangnya unsur hara dari tanah, sehingga kesuburan tanah akan menurun yang menyebabkan terhambatnya pertumbuahn pohon yang di tanam. Kondisi ini akan berlangsung terus menerus, sehingga konsentrsi gas rumah kaca akan terus bertambah dari waktu ke waktu.

 

by: lina qr3n divisi litbang pertanian hamit

dari berbagai sumber

 

Leave a comment »